STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN PEMBANGUNAN (Studi Kasus Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Kebijakan Pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah)

Yunani, Ahmad (2012) STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DALAM PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN PEMBANGUNAN (Studi Kasus Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi Kebijakan Pembangunan Kabupaten Hulu Sungai Tengah). LPPK Lareca Mandiri Banjarmasin, Kalimantan Selatan. ISBN 978-602-99137-2-9

[img]
Preview
Text
Depan.pdf

Download (634Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
isi 2012.pdf

Download (1006Kb) | Preview

Abstract

Change agent memiliki sudut pandang yang berbeda (meski ada sisi-sisi yang sama) tentang pemberdayaan masyarakat di Wilayah Kawasan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Perbedaan sudut pandang terjadi pada setiap aspek atau obyek yang diteliti dalam penelitian ini. Perbedaan pertama terletak pada makna dan tujuan pemberdayaan masyarakat.Makna pemberdayaan menurut pemerintah adalah usaha mendorong masyarakat untuk bisa hidup mandiri, dengan tujuan untuk meningkatkan ukuran-ukuran fisik dan non fisik dalam kehidupan masyarakat. Makna pemberdayaan menurut perusahaan adalah usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ingin sejahtera, dengan ukuran mutlak dan relatif, sehingga terdapat hubungan yang saling menguntungkan antara masyarakat dan perusahaan. Sedangkan makna pemberdayaan menurut LSM adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan riilnya, dengan usaha dan kemampuan masyarakat sendiri, melalui indikator ekonomi, sosial dan budaya. Perbedaan sudut pandang ini mengakibatkan implementasi pemberdayaan masyarakat ketiga change agent tidak bersinergi dengan baik, meskipun setiap tahun change agent terlibat langsung dalam Musrenbang. Akibat kedua ini, tercermin dari program dan pendekatan pemberdayaan yang dilakukan change agent menjadi berbeda. Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pemerintah melalui “Gerbangmastaskin” lebih terkonsentrasi pada program-program fisik dengan pendekatan makro. Perusahaan melalui Comdev melakukan kombinasi program fisik dan non fisik dengan pendekatan mezo (makro dan mikro). Di sisi lain, LSM melakukan kegiatan pendampingan dan penyuluhan (non fisik) dengan pendekatan mikro. Perbedaan sudut pandang tentang pemberdayaan masyarakat bukan hanya terjadi antara ketiga change Agent, tetapi juga antara change agent dan target group. Bahkan perbedaaan sudut pandang tentang pemberdayaan masyarakat juga terjadi di antara sesama target group.Target group “pancing” menyebutkan makna pemberdayaan adalah bantuan secara adil dan merata yang dapat bermanfaat dan dibarengi dengan adanya peluang partisipasi masyarakat. Motivasi utamanya adalah ingin hidup lebih sejahtera. Makna pemberdayaan menurut target group “ikan” adalah pemberian peluang untuk hidup secara mandiri tanpa tergantung pada orang lain. Motivasi utamanya adalah ingin mengubah nasib dan ketergantungannya dengan orang lain. Sudut pandang yang berbeda antara change agent dengan target group mengakibatkan tingkat partisipasi target group terhadap program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan change agent juga berbeda. Partisipasi masyarakat pada program “Gerbangmastaskin” yang dilakukan pemerintah berada pada tingkat konsultasi (consultation). Tingkat partisipasi masyarakat pada program Comdev yang dilakukan perusahaan berada pada tingkat kolaborasi (collaboration). Sedangkan tingkat partisipasi masyarakat terhadap program pendampingan dan penyuluhan yang dilakukan LSM telah berada pada posisi co-learning. Artinya, LSM adalah change agent yang memperoleh partisipasi paling tinggi dari target group. Urutan berikutnya adalah perusahaan, dan yang terakhir adalah pemerintah. Kondisi ini lebih disebabkan karena LSM dapat menetapkan program dan pendekatan yang tepat untuk setiap kelompok target group. Sehingga tidak aneh jika di kelompok target group “ikan” pun, LSM memperoleh partisipasi yang tinggi. Berbeda dengan pemerintah yang terlalu fokus pada program fisik dengan pendekatan makronya, sehingga hanya memperoleh partisipasi yang rendah dibanding dua change agent lainnya. Tingkat partisipasi target group yang berbeda, mencerminkan penerimaan target group terhadap program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh change agent. Semakin tinggi partisipasi target group maka semakin tinggi pula tingkat penerimaan program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan change agent. Tingkat penerimaan yang tinggi dari target group inilah yang membuat kemungkinan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat menjadi lebih besar. Siklus antara makna pemberdayaan menurut target group yang mencerminkan kluster masyarakat, program pemberdayaan, pendekatan pemberdayaan, dan partisipasi target group akan terus berlangsung. Tujuannya adalah untuk mencapai situasi di mana tingkat partisipasi target group berada pada tingkat tertinggi, yaitu collective action dapat dijalankan. Artinya, pengungkapan makna pemberdayaan (mind maping) baik menurut change agent maupun target group untuk menetapkan program dan pendekatan yang tepat, harus terus dilakukan dan tidak akan pernah berakhir.

Item Type: Book
Subjects: H Social Sciences > HC Economic History and Conditions
Divisions: Fakultas Ekonomi > Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Depositing User: Mr Arief Mirathan
Date Deposited: 09 Sep 2013 00:59
Last Modified: 09 Sep 2013 01:08
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/90

Actions (login required)

View Item View Item