Analisis DFMA pada Produk Plastik Kasus Projector

Kristoforus S, Stefano and Wibowo, Agung and Prakosa, Tri (2015) Analisis DFMA pada Produk Plastik Kasus Projector. In: Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin Indonesia XIV, 7-8 OKTOBER 2015, BANJARMASIN.

[img]
Preview
Text
TI-15.pdf

Download (343Kb) | Preview

Abstract

Seiring berkembangnya teknologi, plastik mulai digunakan sebagai material utama dalam berbagai produk. Plastik sering digunakan akibat keberagaman properties, sehingga bisa disesuaikan untuk penggunaan tertentu. Dalam dunia elektronik, plastik unggul karena sifatnya sebagai insulator dan tahan karat, dalam dunia penerbangan, plastik unggul karena densitasnya yang rendah, dan masih banyak lagi. Plastik juga memiliki banyak fitur yang bisa dimanfaatkan seperti press fitting, living hinges, dan snap fitting. Walaupun demikian, desainer seringkali lebih memilih menggunakan mechanicalfastener sebagai metode pengencangan. Dengan adanya toolanalysis dari concurrentengineering yaitu Design for Manufacture and Assembly (DFMA), kita bisa melakukan proses desain dengan memperhatikan aspek-aspek produksi dan assembly sehingga didapatkan produk yang memiliki waktu dan biaya produksi serta assembly yang paling rendah. Tidak terbatas pada saat proses desain, DFMA juga bisa diaplikasikan pada produk jadi. Dengan melakukan perubahan desain dari produk agar sesuai dengan prinsip DFMA, maka efisiensi assembly dan produksi bisa ditingkatkan. Proyektor, sebagai kasus dalam penelitian ini merupakan salah satu peralatan elektronik yang menggunakan plastik sebagai material utama, akan tetapi mekanisme pengencangan masih dilakukan menggunakan screw. Dengan metode DFMA Boothroyd & Dewhurst, maka didapatkan bila desain mengimplementasikan snap fit, didapatkan peningkatan waktu assembly sebesar 16.6 detik dan peningkatan efisiensi assembly sebesar 17.9%. Dari sisi manufaktur, perubahan ini mengakibatkan peningkatan waktu pembuatan mold sebesar 144 jam tanpa mengubah waktu pembuatan produk. Peningkatan waktu manufaktur mold tidak berarti kerugian karena parameter ini termasuk ke dalam fixed cost, yang nilainya dibagi dalam jumlah produk yang diproduksi. Dengan nilai fixed cost yang berbanding terbalik dengan jumlah produk yang dihasilkan dan penurunan waktu assembly, maka bisa didapatkan jumlah produk optimum. Pada jumlah produk optimum ini, kerugian akibat peningkatan biaya manufaktur mold mulai menjadi keuntungan akibat penurunan waktu assembly. Kata kunci :DFMA, Boothroyd & Dewhurst, Plastics, Snapfit

Item Type: Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects: T Technology > TJ Mechanical engineering and machinery
Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Mesin
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 25 Jan 2016 02:15
Last Modified: 25 Jan 2016 02:15
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/837

Actions (login required)

View Item View Item