Pandangan Buruh Penyadap Karet Terhadap Pendidikan Anak (Studi Kasus di Desa Bungin kecamatan Paringin Kabupaten Balangan)

Adawiah, Rabiatul (2012) Pandangan Buruh Penyadap Karet Terhadap Pendidikan Anak (Studi Kasus di Desa Bungin kecamatan Paringin Kabupaten Balangan). Project Report. FKIP Unlam, Kalimantan Selatan.

[img]
Preview
Text
3 Pandangan Buruh Penyadap Karet Terhadap Pendidikan Anak (Studi Kasus di Desa Bungin kecamatan Paringin Kabupaten Balangan).pdf

Download (945Kb) | Preview

Abstract

Kata Kunci : buruh penyadap karet, pendidikan anak Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel 2012 bahwa dari 13 Kabupaten/Kota yang ada di Kalimantan Selatan, Kabupaten Balangan merupakan kabupaten yang terendah APK dan APMnya baik untuk sekolah dasar maupun untuk sekolah lanjutan pertama. Hal ini mengindikasikan bahwa angka putus di Kabupaten Balangan juga tergolong tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status sosial budaya dan ekonomi masyarakat desa Bungin dan mengetahui pandangan mereka tentang pendidikan anak. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Status sosial budaya desa Bungin merupakan desa yang terbuka, hal ini ditandai dengan banyaknya perkebunan karet di desa ini yang dimiliki oleh orang luar. Dalam pertalian sosialnya mereka menjalankan sebagaimana yang dikemukakan oleh Scot dan Tonnis bahwa pertalian sosial dibangun melalui hubungan emosional dan kekerabatan. Agama Islam dijadikan inti kebudayaan mereka; 2) Keadaan sosial ekonomi, dalam perekonomian mereka berfikir rasional ekonomi, artinya mereka tidak hanya sebagai buruh karet tetapi ada usaha lain seperti berjualan kecil-kecilan di depan rumah, pencangkok karet unggul dan juga adanya arisan; 3) Pandangan tentang pendidikan, pendidikan agama lebih diutamakan karena dengan pendidikan agaman dia akan menjadi orang baik dari sekaolah. Dari penelitian ini disarankan 1) Hubungan sisal antar masya agar teteap dipelihara dgn mengutamkan kekerabatan ketimbang hubungan yang bersifat sementara melalui peningkatan gotong royong, kegiatan keaagamaan dan kegiatan nasional; 2) Diperlukan patron dari pemerintah yang mnjadi bapak asuh mereka untuk memberikan pinjaman tanah agar mereka mampu untuk mengembangkan usahanya; 3) Pihak intsasi terkait agar bisa bekerja sama dengan tuan guru bahwa sekolah pemerintahpun diwajbkan dalam agama, sehingga pemahaman pendidikan agama maupun sekuler menjadi selaras.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
Divisions: FKIP > Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Depositing User: Mr Arief Mirathan
Date Deposited: 05 Sep 2013 00:52
Last Modified: 05 Sep 2013 00:52
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/73

Actions (login required)

View Item View Item