Pengembangan Model Perangkat Pembelajaran Sains dan Matematika melalui Model Pembelajaran Sekolah Hijau (For Greening Schools) di Sekolah Dasar

Muhammad, Zaini (2008) Pengembangan Model Perangkat Pembelajaran Sains dan Matematika melalui Model Pembelajaran Sekolah Hijau (For Greening Schools) di Sekolah Dasar. Landasan - Jurnal Ilmiah Kependidikan & Kemasyarakatan, 3 (1). ISSN 1907-431X

[img]
Preview
Image
img062.jpg

Download (192Kb) | Preview
[img]
Preview
Image
img063.jpg

Download (99Kb) | Preview
[img]
Preview
Image
img064.jpg

Download (177Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
3.Sekolah hijau ok_doc.pdf

Download (88Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
447.pdf

Download (491Kb) | Preview

Abstract

Penelitian ini bermaksud mengembangkan model pembelajaran sekolah hijau pada mata pelajaran sains dan matematika di SD, yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan berpikir, dan keterampilan siswa, sehingga lebih bermakna. Pengembangan model pembelajaran sekolah hijau dilakukan dengan menggali konteks lokal berdasarkan lingkungan di mana sekolah tersebut berada, sebagai dasar awal menjelaskan ide dan konsep sains dan matematika. Dengan mengembangkan konteks lokal yang dekat dan telah dikenal oleh siswa pembelajaran sains dan matematika diharapkan lebih mudah dan bermakna bagi siswa, dapat mendorong proses belajar mengajar yang interaktif, dan membantu pemahaman sains dan matematika yang lebih baik, yaitu dapat lebih tahan lama, dapat digunakan untuk meningkatkan daya nalar, dan dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan model perangkat pembelajaran sains dan matematika dan penerapannya dalam kegiatan belajar mengajar dengan model pembelajaran sekolah hijau (for greening schools) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa sekolah dasar. Model pembelajaran dalam penelitian ini mengadaptasi model Dick & Carey (1990). Subyek penelitian adalah guru SD kelas V semester 2 yang tergabung dalam gugus sekolah pada 5 daerah yakni Kota Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tanah Laut. Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tapin. Penentuan gugus dilakukan secara bertujuan. Penelitian tahun pertama dilaksanakan pada tahun pelajaran 2007/2008. Pengumpulan data dijelaskan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Menggali konteks lokal Provinsi Kalimantan Selatan sebagai dasar pengembangan model pembelajaran dilakukan melalui survei. Kajian telaah kurikulum sains dan matematika SD dilakukan melalui seminar dan lokakarya. Kondisi awal proses pembelajaran sains dan matematika SD dilakukan melalui pengamatan pembelajaran. Deskripsi model pembelajaran sains dan matematika yang akan digunakan hingga dihasilkan draf model dilakukan melalui seminar dan lokakarya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan dengan sumber data. menggali konteks lokal Provinsi Kalimantan Selatan sebagai dasar pengembangan model pembelajaran dianalisis secara naratif. Kajian telaah kurikulum sains dan matematika SD dianalisis secara deskriptif. Kondisi awal proses pembelajaran sains dan matematika SD dianalisis secara kategorikal, kemudian ditafsirkan ke dalam kalimat kualitatif yakni baik (76100%), sedang (56-75%), kurang (40-55%), dan buruk (<40%)(Arikunto, 1998:246). Deskripsi model pembelajaran sains dan matematika yang akan digunakan hingga dihasilkan draf model dianalisis secara naratif. Hasil penelitian diperoleh 1) Aktivitas siswa dalam pembelajaran di lingkungan peralihan rawa dan perbukitan sudah cukup tinggi. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran di lingkungan perairan juga sudah cukup tinggi. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran di lingkungan perbukitan/pegunungan masih rendah. 2) Aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran di lingkungan peralihan rawa dan perbukitan belum bisa melepaskan dominasinya secara penuh. Aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran di lingkungan perairan sudah mulai mengurangi dominasinya. Aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran di lingkungan perbukitan/pegunungan masih belum baik. 3)Hasil belajar siswa dalam beragam lingkungan pembelajaran yang dianalisis dengan anacova menunjukkan signifikan, artinya penggunaan pendekatan PBM dan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. 4) Hasil selama proses pembelajaran dalam beragam lingkungan pembelajaran yang dianalisis secara deskriptif sudah tergolong cukup baik. Hasil penelitian produk berupa prototype awal model pembelajaran sekolah hijau yang mencakup 3 daerah geografis, yakni daerah rawa (perairan), daerah pegunungan (perbukitan), dan daerah peralihan, sudah dapat digunakan oleh pada ketiga lingkungan penelitian. Kata Kunci: IPA SD, model pembelajaran, pendekatan PBM, pendekatan lingkungan,sekolah hijau

Item Type: Article
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: FKIP > Pendidikan Biologi
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 25 Sep 2015 08:18
Last Modified: 11 Apr 2016 00:46
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/447

Actions (login required)

View Item View Item