Tinjauan Etnomusikologi Musik Kuriding Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan

Maryanto, Maryanto and Dwi Wahyu Candra, Dewi and Syahlan, Mattiro Tinjauan Etnomusikologi Musik Kuriding Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. In: Tinjauan Etnomusikologi Musik Kuriding Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Aswaja Pressindo.

[img]
Preview
Text
Kuriding 2013.pdf

Download (1401Kb) | Preview

Abstract

Musik tradisional Indonesia adalah musik yang lahir dan dipelihara kelestariannya oleh masyarakat di Indonesia. Musik tradisional sangat banyak jenisnya karena masing-masing daerah di Indonesia memiliki musik tradisional yang beragam. Musik tradisional di pengaruhi oleh adat-istiadat, agama, dan struktur masyarakat masing-masing daerah. Musik tradisional hidup dan berkembang di masyarakat secara turun-temurun dan dipertahankan sebagai sarana hiburan. Tiga komponen yang saling memengaruhi dalam melestarikan musik tradisi adalah seniman, karya musik itu sendiri dan masyarakat pendukung. Kalimatan Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki beragam kesenian tradisional. Salah satu musik tradisi yang dimiliki Kalimantan Selatan, yaitu Kuriding. Kuriding adalah sebuah alat musik khas Kalimantan Selatan. Kuriding dimainkan oleh seniman dari etnis Bakumpai maupun Banjar. Kuriding dibuat dari enau atau kayu mirip ulin yang hanya ada di daerah Muara Teweh, Barito Utara. Cara memainkan Kuriding adalah tangan kiri memegang tali pendek melingkar yang menahan bilah kayu itu agar menempelkan di mulut. Tangan kanan menarik-narik tali panjang yang diikat pada ujung bilah sebelahnya. Terdengar seperti suara angin menderu-deru, diiringi bunyi menghentak-hentak berirama teratur. Deru angin itu muncul dari tiupan mulut pemain Kuriding, sedangkan bunyi menghentak-hentak dari tarikan tangan kanan. Pada saat ini pemain Kuriding jumlahnya kian tahun kian berkurang dilihat dari perkembangannya pada beberapa puluh tahun yang lalu. Karena tingkat kesulitan menguasai alat ini cukup tinggi. Selain itu, konon Kuriding juga sulit dibuat dan memainkannya harus hati-hati karena bila sampai patah akan membahayakan pemainnya. Itu sebabnya ada sebuah ungkapan Banjar yang berbunyi "Kuriding Patah". Bisa dikatakan pemain kuriding sekarang langka, dulu ada sekitar 50 orang yang bisa memainkannya tetapi saat ini hanya tinggal 3 orang yang tersisa. Hal itu dikarenakan tidak adanya regenerasi pemain musik Kuriding. Seiring perkembangan waktu bisa saja musik ini akan hilang karena tidak ada orang yang memainkannya. Sehingga dimungkinkan komponen kebudayaan Banjar terancam hilang karena salah satu keseniannya tidak dapat bertahan di antara persaingan teknologi dan perkembangan zaman.

Item Type: Book Section
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisions: FKIP > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 12 May 2015 06:47
Last Modified: 12 May 2015 06:47
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/322

Actions (login required)

View Item View Item