PEMETAAN DAN ANALISIS SISI PASOKAN DUNIA PENDIDIKAN DALAM DIMENSI KUALITAS, KUANTITAS, LOKASI DAN WAKTU DI KOTA BANJARMASIN

Ismed, Setya Budi and Mariana, Mariana (2012) PEMETAAN DAN ANALISIS SISI PASOKAN DUNIA PENDIDIKAN DALAM DIMENSI KUALITAS, KUANTITAS, LOKASI DAN WAKTU DI KOTA BANJARMASIN. Project Report. Fakultas Pertanian Unlam, Banjarmasin.

[img]
Preview
Text
USUL 2 Lap akhir - SISI PASOKAN.pdf

Download (2307Kb) | Preview
Official URL: http://lemlit.unlam.ac.id

Abstract

Uvaya3 penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja dan dunia industri (DUDI), merupakan salah satu usaha konkrit yang dilakukan pemerintah pusat melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mengatasi masalah tenaga kerja di tanah air. Diharapkan dengan terjadinya keselarasan dalam pelaksanaannya, maka pada akhirnya akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Permasalahan tenaga kerja terdidik di Kalimantan Selatan juga mengalami hal yang sama seperti daerah lainnya di Indonesia, yaitu tingkat pengangguran belum bisa teratasi dengan tuntas bahkan kecenderungan semakin meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas. Angka pengangguran mencapai 118.406 jiwa atau 6,75 %, padahal Propinsi Kalimantan Selatan memilki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah dengan jumlah penduduk relatif kecil serta wilayah yang luas. Berdasarkan keunggulan daerah dan potensi strategis sesuai konsep MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia), koridor Kalimantan dengan kekayaan alam yang melimpah dan sebagian besar masih belum tergarap maka menjadi potensi besar pula untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya dalam waktu singkat. Pada tahun pertama (2011) berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan Tim dari Universitas Lambung Mangkurat mencoba memotret keinginan DUDI terhadap kriteria tenaga kerja yang dibutuhkan, dan melakukan analisis kondisi tenaga kerja yang ada, maka di ketahui bahwa DUDI masih membutuhkan pasokan tenaga kerja siap pakai. Diketahui bahwa pasokan tenaga kerja masih belum mencukupi baik dari sisi kuantitas, kualitas, lokasi dan waktu. Hasil kajian juga memperlihatkan bahwa perbandingan tenaga kerja di Kalimantan Selatan berdasarkan tingkat pendidikan terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar hanya berpendidikan tamat SD/MI. Prediksi tentang kebutuhan tenaga kerja di masa datang (lima tahun ke depan) dibuat berdasarkan pertimbangan perluasan areal perkebunan sesuai luas HGU yang sudah dimiliki perusahaan tapi belum tergarap, intervensi besar-besaran pengembangan di lahan marginal dan lahan basah, dan rencana pengembangan/ pembangunan pabrik baru untuk pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi, serta memperhitungkan wilayah potensial yang dapat dikembangkan untuk perkebunan kelapa sawit berdasarkan RTRW Propinsi Kalimantan Selatan, maka masih diperlukan tenaga kerja yang lebih banyak lagi. Hasil prediksi peningkatan jumlah tenaga kerja yang diperlukan lebih dari 100% hingga tahun 2015. Kondisi tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit masih kurang, baik secara kuantitas maupun kualitas. Diperkirakan untuk kebutuhan tenaga kerja satu wilayah kebun dengan luasan sekitar 10.000 hektar idealnya diperlukan seorang manajer dan dibantu dengan satu orang asisten kepala, 4 orang asisten kebun, 4 orang mandor kepala, 10 orang mandor. Kebutuhan tenaga kerja pada level pelaksana lapangan hingga buruh kebun diperhitungkan dengan proporsi luasan kebun yang ditangani, misalnya untuk tenaga kerja tanam dibutuhkan 0.12 x luas kebun, tenaga pemeliharaan 0,12 x luas kebun, dan tenaga panen sekitar 0,08 x luas kebun. Dengan demikian kebutuhan tenaga harian semakin besar lagi. Tenaga kerja yang dibutuhkan nantinya terutama yang terkait dengan bidang teknis pertanian/perkebunan (untuk kebutuhan kebun), teknik mesin, industri, kimia (terutama untuk kebutuhan pabrik kelapa sawit) serta bidang ekonomi,akuntansi, komputer dan informatika (untuk penunjang kegiatan administrasi perkantoran). diketahui, jumlah angkatan kerja di Kalimantan Selatan pada Februari 2012 sebesar 1,887 juta jiwa. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,55 persen, bila dibandingkan pada Februari 2011 yang berjumlah 1,840 juta jiwa. Namun berdasarkan jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2012 mencapai 1,806 juta jiwa, mengalami penambahan sebesar 68,92 ribu jiwa dibandingkan pada Februari 2011 yang berjumlah 1,737 juta jiwa. Data pada Februari 2012, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah 4,32 persen. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan keadaan Februari 2011. Februari 2011 TPT di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 5,62 persen. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada bulan Februari 2012 tercatat sebanyak 38,20 persen tenaga kerja diserap sektor pertanian. Sektor perdagangan adalah sektor kedua terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 20,59 persen. APK pada jenjang SLTA baru mencapai 74,29%, sisanya masih 35,71% atau lebih belum menduduki sekolah SLTA. Rendahnya APK SLTA ini berarti akan menyumbang angkatan kerja yang kompetensinya hanya berpendidikan SLTP (Pendidikan Dasar), sementara dunia usaha atau lapangan kerja memerlukan tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Sejalan dengan meningkatnya jumlah peduduk, meningkat pula jumlah angkatan kerja setiap tahunnya. Kurun waktu tahun 2007-2009 tingkat partisipasi angkatan kerja mengalam perubahan naik dan turun (Fluktuatif) namun serapan terhadap tenaga kerja justru mengalami kecenderungan menurun yang digambarkan dengan jumlah penduduk yang bekerja yakni 1.598.981 tahun 2007 menjadi 1.594.760 tahun 2008. Untungnya pada tahun 2009 jumlah penduduk bekerja naik kembali menjadi 1.635.177 jiwa. Rasio murid dan sekolah di SMU dengan di SMK terjadi perbedaan yang sangat signifikan, kondisi ini menunjukkan bahwa minat murid bersekolah di SMK relatif tinggi, dengan rasio hampir 1,4 bekerja sesuai kompetensi sebesar 71,23-100% sedangkan level SMK antara 4,2% - 91,69%. Analisis berdasarkan lokasi tempat bekerja, ternyata dari kompetensi teknologi rekayasa didominasi bekerja di perkotaan sedangkan kompetensi agribisnis dan agroindustri pada luar kota, namun sampai saat ini tidak ada alumni yang bekerja di luar negeri. Berdasaarkan analisis kajian tentang waktu tunggu siswa setelah selesai pendidikan dan mendapatkan pekerjaan pertama adalah terpendek kurang dari 3 bulan pada alumni poliban bidang alat berat dan Fakultas Pertanian Unlam, sedangkan level SMK adalah dari alumni SMK 5, SMK NU dan SPPN Banjarbaru dengan persentase 54%. Secara umum cukup tinggi tingkat keselarasan lulusan pendidikan Vokasional dan Perguruan Tinggi di Kalimantan Selatan. Nilai AI untuk tiap-tiap perguruan tinggi /sekolah vokasional menunjukkan bahwa institusi pendidikan dengan program yang spesifik di bidang Teknik Pertambangan dan Alat berat mendapatkan AI yang tertinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan maka dapat disarankan bahwa kebutuhan tenaga kerja akan terus meningkat sehingga perlu adanya kerjasama yang lebih baik antara dunia pendidikan dan pihak DUDI untuk menciptakan tenaga kerja yang memenuhi standar kuantitas, berkualitas dan kontinuitas sesuai harapan. Disamping itu pula perlu dipikirkan kembali cara tepat untuk menyiapkan ketersediaan, kelengkapan dan kemutahiran data lulusan di tiap-tiap institusi penyelenggara pendidikan. Untuk itu diperlukan Kerjasama antara institusi penyelenggara pendidikan dengan para lulusannya dalam hal pengisian dan pemutahiran data alumni. Pengisian daata dapat dilakukan secara periodik baik sebelum dan sesudah wisuda, atau melalui mekanisme temu alumni, bursa kerja, email, forum mailing list angkatan, atau jejaring sosial.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Fakultas Pertanian
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 26 Aug 2014 01:12
Last Modified: 26 Aug 2014 01:12
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/258

Actions (login required)

View Item View Item