PEMETAAN DAN ANALISIS SISI PERMINTAAN DUNIA KERJA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM DIMENSI KUALITAS, KUANTITAS, LOKASI DAN WAKTU DI KALIMANTAN SELATAN

Ismed, Setya Budi and Mariana, Mariana and Taufik, Hidayat (2012) PEMETAAN DAN ANALISIS SISI PERMINTAAN DUNIA KERJA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM DIMENSI KUALITAS, KUANTITAS, LOKASI DAN WAKTU DI KALIMANTAN SELATAN. Project Report. Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

[img]
Preview
Text
USUL 1 Lap akhir pemetaan - SISI PERMINTAAN.pdf

Download (3471Kb) | Preview
Official URL: http://lemlit.unlam.ac.id

Abstract

Kebutuhan ketenagakerjaan pada sektor perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan secara umum menunjukkan trend kecenderungan yang meningkat seiring dengan perluasan kebun dan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit. Peningkatan jumlah tenaga kerja makin besar apabila dikaitkan dengan makin luasnya lahan marginal dan lahan basah yang bisaa digarap, serta tuntutan akan pengolahan hasil CPO menjadi produk jadi. Tenaga kerja yang dibutuhkan nantinya terutama yang terkait dengan bidang teknis pertanian/perkebunan (untuk kebutuhan kebun), teknik mesin, industri, kimia (terutama untuk kebutuhan pabrik kelapa sawit) serta bidang ekonomi,akuntansi, komputer dan informatika (untuk penunjang kegiatan administrasi perkantoran). Tingkat pengangguran terus meningkat dan belum bisa teratasi dengan tuntas bahkan kecenderungan semakin meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan kelapa sawit sebagai kegiatan ekonomi utama terus dikembangkan secara besar-besaran untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara cepat dan tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan terakhir sebagian besar hanya berpendidikan tamat SD/MI. Diperlukan tenaga kerja yang lebih banyak lagi, dengan prediksi memerlukan peningkatn jumlah lebih dari 100% hingga 2015. Pola ketenaga-kerjaan berdasarkan level manajemen pada perkebunan kelapa sawit membentuk piramida, Untuk level manajemen (top manajemen/manajer) proporsinya hanya sekitar 8,42%, level menengah (supervisor) sebanyak 18,03%, dan level operator mencapai 73,54%. Pada level manajer tingkat pendidikan tenaga kerja didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan setara S1 (mencapai 61,65%). Pada level supervisor umumnya masih didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan sekolah menengah atas dengan proporsi mencapai 58,62%.Pada level operator, dapat dilihat bahwa proporsi mereka yang berpendidikan rendah lebih mendominasi. Hal ini karena mereka memang sebagai tenaga kerja yang menjadi ujung tombak pelaksana teknis di lapangan. Tenaga kerja dengan tingkat pendidikan formal SD dan SMP mendominasi tenaga kerja pada level operator dengan proporsi mencapai 67,95%. Walaupun demikian, pada level operator ini tenaga kerja dengan tingkat pendidikan formal SMA proporsi juga relatif besar dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya, yang mencapai 27,22%. Hasil survai menunjukkan bahwa kompetensi pada level manajer lebih banyak didominasi bidang pertanian (terutama agronomi, hama dan penyakit tumbuhan dan sosial ekonomi pertanian) serta bidang ekonomi. Kompetensi dasar lainnya adalah hukum, manajemen, dan akuntansi. Aspek ketenagakerjaan yang terkait dengan dimensi waktu di perkebunan kelapa sawit ini meliputi kondisi eksisting berdasarkan masa kerja tenaga kerja yang ada serta perkiraan kebutuhan tenaga kerja di masa yang akan datang. Berdasarkan hasil survai diketahui bahwa masa kerja karyawan di perkebunan kelapa sawit ini menunjukkan gambaran yang cukup berbeda pada masing-masing level, baik untuk level manajer, supervisor maupun operator. Untuk level manajer umumnya masa kerja mereka lebih dari 5 tahun (52,43%). Kondisi kerja diperkebunan kelapa sawit hingga masih kurang baik secara kuantitas maupun kualitas. Diperkirakan untuk kebutuhan tenaga kerja satu wilayah kebun dengan luasan sekitar 10.000 hektar idealnya diperlukan seorang manajer dan dibantu dengan satu orang asisten kepala, 4 orang asisten kebun, 4 orang mandor kepala, 10 orang mandor. Kebutuhan tenaga kerja pada level pelaksana lapangan hingga buruh kebun diperhitungkan dengan proporsi luasan kebun yang ditangani, misalnya untuk tenaga kerja tanam dibutuhkan 0.12 x luas kebun, tenaga pemeliharaan 0,12 x luas kebun, dan tenaga panen sekitar 0,08 x luas kebun. Dengan demikian kebutruhan tenaga harian semakin besar lagi. Berdasarkan kajian lokasi asal pendidikan maka tergambar bahwa pada umumnya tenaga kerja pada sektor perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Selatan masih didominasi tenaga kerja dari luar provinsi baik untuk level manajer, supervisor maupun level operator. Tenaga kerja lokal hanya mendominasi sebagai tenaga kerja lepas dengan upah harian. Hal ini bukan karena perusahaan tidak peduli dengan tenaga kerja lokal tapi karena kualitas tenaga kerja lokal yang belum memenuhi standat yang dibutuhkan perusahaan. Disamping itu tenaga kerja lokal belum memandang sektor perkebunan sebagai sektor mampu menjadi daya tarik karena masih ada sektor perdagangan yang lebih sesuai haarapan. Kebutuhan tenaga kerja akan terus meningkat sehingga perlu adanya kerjasama yang lebih baik antara dunia pendidikan dan pihak perusahaan kelapa sawit untuk menciptakan tenaga kerja yang memenuhi standar kuantitas, berkualitas dan kontinuitas. Hal yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah perhatian terhadap tenaga kerja lokal perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan kecemburuan dan kesejangan dimasa akan datang. Fakultas Pertanian Unlam harus mampu menyiapkan pendidikan yang benar-benar mendukung perkebunan kelapa sawit di Kalimantan, seperti pembukaan pendidikan fokasi atau SMK khusus kelapa sawit dan pembukaan Program Studi Kelapa Sawit pada perguruan tinggi. Tantangan bagi dunia pendidikan kedepan adalah bagaimana pengembangan perkebunan kelapa sawit masa depan dapat diarahkan pada lahan marginal dan lahan basah. Luas lahan yang belum tergarap ini merupakan peluang besar bagi penambahan luas areal perkebunan kelapa sawit dimasa yang akan datang. Terkait pada tingkat pendidikan formal para manajer ini dapat diketahui level manajer dengan semua jenjang pendidikan selalu didominasi oleh tenaga kerja dari luar provinsi sebesar 72,82% sedangkan pada level supervisor hanya mencapai 58,28%. Hal yang juga menarik adalah proporsi tenaga kerja level supervisor yang berasal dari dalam kabupaten proporsi menempati urutan kedua dibandingkan yang berasal dari dalam provinsi, dengan proporsi mencapai 21,77%. Pada level operator proporsi pada masing-masing level walaupun masih didominasi tenaga kerja dari luar provinsi tetapi tenaga kerja dari dalam provinsi maupun dalam kabupaten proporsi juga sudah relatif besar. Terkait asal sekolah tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit yang masih didominasi oleh tenaga kerja luar propinsi maka perlu usaha kongkrit dari pihak perusahaan dan pemerintah daerah agar nantinya tidak timbul kecemburuan sosial dengan lebih memberikan prioritas kepada putra daerah dimana perkebunan kelapa sawit berada.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Fakultas Pertanian
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 26 Aug 2014 01:01
Last Modified: 26 Aug 2014 01:01
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/257

Actions (login required)

View Item View Item