FACEBOOKER KAMPUS: DARI ISU PRIVAT KE RUANG PUBLIK (STUDI TERHADAP PENGGUNA FACEBOOK DI KALANGAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI – UNLAM)

Rochgiyanti, Rochgiyanti and Sigit, Ruswinarsih and Alfisyah, Alfisyah and Lumban, Arofah (2010) FACEBOOKER KAMPUS: DARI ISU PRIVAT KE RUANG PUBLIK (STUDI TERHADAP PENGGUNA FACEBOOK DI KALANGAN MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI – UNLAM). Project Report. Universitas Lambung Mangkurat. (Submitted)

[img]
Preview
Text
3 Facebooker Kampus.pdf

Download (283Kb) | Preview

Abstract

Kehadiran situs Facebook.com di internet menjadi salah satu situs persahabatan yang paling banyak dikunjungi bahkan diminati. Lebih dari seratus juta warga dunia kini keranjingan dengan jaringan sosial di dunia maya, Facebook.com. Lewat situs ini, pengguna dapat memperluas pertemanan lintas benua, bahkan kembali ”bertemu” dengan kawan-kawan atau pacar lama yang tidak terlihat lagi seusai perpisahan sekolah (Kompas.com, 28 Februari 2009). Modal saling mengenal sebelumnya, kemudian bertemu di Facebook dapat menguatkan simpul jaringan sosial, menjadi lebih luas apabila terjalin hubungan dengan orang lain yang sebelumnya diketahui memiliki hubungan dengan teman dekat kita. Hubungan emosional terbangun dengan cara seperti ini kemudian memunculkan suasana nostalgia, romantisme, persahabatan, fanatisme dan komunalisme, sehingga keikutsertaan dalam Facebook pun tidak hanya muncul dalam kepemilikan personal. Hasrat manusia untuk masuk ke dalam kelompoknya dapat disalurkan melalui keanggotaannya dalam Facebook, misalnya ikatan satu alumni sekolah/kampus, kesamaan terhadap tokoh tertentu baik tokoh agama, tokoh politik, pejabat, bintang film maupun kesamaan suku-bangsa, kesamaan daerah asal daerah yang semua itu berlangsung di luar batas geografis. Sebenarnya Facebook dan sejenisnya hanyalah media untuk berinteraksi di dunia maya, atau sebagai suatu wahana lain yang mempertemukan manusia dengan manusia lain secara non-fisik. Jika dulu divusi kebudayaan terjadi dalam bentuk kontak fisik, pertemuan antar manusia maupun dengan produk materi, sekarang terjadi melalui perantaraan teknologi internet. Keberadaan Facebook sebagaimana televisi, menurut Irwan Abdullah (2006:55) sesungguhnya telah mengaburkan batas-batas fisik dan budaya sehingga menciptakan “deteritorialisasi”, suatu dunia baru dengan batas-batas wilayah dan nilai yang bersifat relatif. Terjadi deteritorialisasi inilah yang disebut McLuhan menciptakan dunia sebagai “global village”. Kaburnya batas-batas fisik di dunia maya, membuat sifat dasar kita yang serba suka ingin tahu keadaan orang lain untuk memanfaatkan situs Facebook, terutama mengetahui keadaan keluarga, kolega, sahabat yang terpisah jarak dan waktu. Pada saat bersamaan, dalam diri seseorang pun tersimpan keinginan untuk diketahui keadaannya oleh orang lain dan itupun diekspresikan dalam Facebook. Terlepas mana yang lebih dominan antara ingin tahu atau ingin diketahui, yang jelas Facebook dan sejenisnya menjadi media penghantar hubungan tersebut. Pengguna facebook atau sering disebut dengan istilah facebooker berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan terpelajar baik siswa dan mahasiswa. Apalagi jika ditelusuri asal mula facebook, ternyata sangat berhubungan dengan kalangan mahasiswa. Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Hebohnya, dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh dari semua mahasiswa Harvard telah mendaftar dan memiliki account di facebook. Tak hanya itu, beberapa kampus lain di sekitar Harvard pun meminta untuk dimasukkan dalam jaringan facebook. Zuckerberg pun akhirnya meminta bantuan dua temannya untuk membantu mengembangkan facebook dan memenuhi permintaan kampus-kampus lain untuk bergabung dalam jaringannya. Dalam waktu empat bulan semenjak diluncurkan, facebook telah memiliki 30 kampus dalam jaringannya Persoalan sekarang adalah ketika facebook sudah melintas antar benua, apakah penggunanya memanfaatkan situ pertemanan ini untuk kepentingan yang berhubungan dengan pendidikan. Padahal dalam beberapa kasus, terdapat siswa yang dikeluarkan dari sekolah karena statusnya menyinggung institusi sekolah atau pun kepada guru-gurunya.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: H Social Sciences > HM Sociology
Divisions: FKIP > Pendidikan SosAntro
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 27 Apr 2014 16:25
Last Modified: 27 Apr 2014 16:25
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/234

Actions (login required)

View Item View Item