TANGGAPAN TERHADAP IKLIM SEBAGAI PERWUJUDAN NILAI VERNAKULAR PADA RUMAH BUBUNGAN TINGGI

Muhammad, Ibnu Saud (2012) TANGGAPAN TERHADAP IKLIM SEBAGAI PERWUJUDAN NILAI VERNAKULAR PADA RUMAH BUBUNGAN TINGGI. LANTING Journal of Architecture, 1 (2). pp. 68-137. ISSN 2089-8916

[img]
Preview
Text
Lanting_01-02_2012_hal106-116.pdf

Download (3679Kb) | Preview

Abstract

Abstrak Keterbatasan energi merupakan tantangan terbesar abad ini, demikian pula dalam arsitektur. Efisiensi energi sebenarnya bukanlah kriteria baru dalam desain arsitektur. Arsitektur vernakular diyakini melakukan tanggapan terhadap iklim melalui penggunaan sumber daya minimum untuk mendapatkan kenyamanan maksimum. Rumah Bubungan Tinggi dalam konteks iklim tropis lembab pada lahan basah di Kalimantan Selatan diasumsikan tanggap terhadap iklim. Bagaimanakah konsep tanggapan terhadap iklim pada Rumah Bubungan Tinggi? Bagaimanakah penerapan tanggapan terhadap iklim tersebut pada Rumah Bubungan Tinggi? Jawabannya bisa menjadi identifikasi awal bagi arsitektur di Kalimantan Selatan dalam menanggapi iklim secara passive design. Menurut Rapoport (1969) dalam konteks iklim, arsitektur vernakular bisa dilihat sebagai shelter pengendali kenyamanan termal. Rumah Bubungan Tinggi sebagai bangunan vernakular, mempertimbangkan faktor iklim untuk mencapai kenyamanan termal. Tanggapan tersebut disesuaikan dengan konteks iklim lokal yaitu pada hal-hal berupa bentuk, material dan konstruksi, serta elemen-elemen pengendali iklim. Kata Kunci: vernakular, rumah bubungan tinggi, kenyamanan termal Abstract Limitations of energy is the greatest challenge of this century, as well as in architecture. Energy efficiency is not really a new criterion in the design of architecture. Vernacular architecture is believed to initiate a response to the climate through the use of minimum resources to get maximum comfort. RumahBubunganTinggi in the context of the humid tropical climate in the wetlands of South Kalimantan is assumed to respond to climate. How does the concept of climate response ofRumahBubunganTinggi? How does the application of the climate response to RumahBubunganTinggi? The answer could be the initial identification of the architecture in South Kalimantan in response to climate passive design. According to Rapoport (1969) in the context of climate, vernacular architecture can be seen as a shelter controlling thermal comfort.RumahBubunganTinggi as a vernacular building is considering climatic factors in order to achieve thermal comfort. The response is suited to the context of the local climate on things such as the shape, material and construction, as well as climate control elements. Keywords: vernacular, rumahbubungantinggi, thermal comfort

Item Type: Article
Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
Divisions: Fakultas Teknik > Arsitektur
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 24 Jul 2017 01:41
Last Modified: 24 Jul 2017 01:41
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/1933

Actions (login required)

View Item View Item