PENGEMBANGAN MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LAHAN BASAH UNTUK MEMBUDAYAKAN GOSOK GIGI DENGAN AIR YANG MEMENUHI PERSYARATAN KESEHATAN DALAM PENANGGULANGAN TINGGINYA INDEKS KARIES GIGI DI KALIMANTAN SELATAN

Rosihan, Adhani (2016) PENGEMBANGAN MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LAHAN BASAH UNTUK MEMBUDAYAKAN GOSOK GIGI DENGAN AIR YANG MEMENUHI PERSYARATAN KESEHATAN DALAM PENANGGULANGAN TINGGINYA INDEKS KARIES GIGI DI KALIMANTAN SELATAN. Project Report. Lembaga Penelitian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

[img]
Preview
Text
8RA.pdf

Download (1194Kb) | Preview
[img]
Preview
Text
10RA.pdf

Download (613Kb) | Preview

Abstract

Kerusakan gigi berupa karies (lubang) gigi merupakan penyakit yang paling banyak dijumpai di dalam rongga mulut sehingga merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut. Berdasarkan Riskesdas Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2007 didapatkan data bahwa tingkat kerusakan gigi tertinggi di Kalimantan Selatan adalah di Kabupaten Barito Kuala (39,5%) dan Kota Banjarmasin (38,2%), padahal kriteria tingkat keparahan karies menurut WHO) yaitu indeks DMF-T sebesar 6,61. Kedua wilayah tersebut dialiri oleh air sungai yang mengalir berasal dari rawa-rawa yang berada di lingkungan di sekitar sungai. Kondisi lingkungan lahan gambut dengan lingkungan rawa-rawa menghasilkan air dengan tingkat keasamannya antara pH 3,5 - 4,5. Banyaknya kasus kerusakan gigi di Kalimantan Selatan tidak bisa dilepaskan dari pola hidup dan kebudayaan masyarakat yang sangat bergantung dengan sungai terutama dalam penggosokan gigi yang menggunakan air sungai. Agar masyarakat mau mengubah cara mereka menggosok gigi perlu dikembangkan sebuah model pemberdayaan masyarakat untuk membudayakan gosok gigi dengan air yang memenuhi syarat kesehatan sehingga dapat dijadikan sebagai upaya preventif dalam mengurangi tingginya tingkat kerusakan karies gigi. Dari rencana penelitian dua tahun, penelitian yang berjalan (tahun pertama) diarahkan pada kajian pemeriksaan karies gigi serta pengkajian aspek sosial budaya masyarakat yang menggosok gigi dengan air sungai. Dari kegiatan pemeriksaan gigi, penelitian ini menemukan bahwa di sekolah MTsN Marabahan, kelompok sisiwa yang menggunakan air sungai memiliki nilai indeks DMF-T 5,6 yang dikategorikan tinggi menurut standard WHO lebih tinggi dari kelompok siswa yang menggosok gigi dengan air PDAM yang memiliki indeks DMF-T 2,8. Di SMP 4 Kota Banjarmasin kelompok siswa yang menggunakan air sungai memiliki indeks DMFT 5,3 lebih tinggi dibanding kelompok siswa yang menggunakan air PDAM yang memiliki indeks DMF-T 1,3. Di sekolah SMPN 15 Kota Banjarmasin di mana kelompok siswa yang menggunakan air sungai berindeks DMF-T 6,6 lebih tinggi dari kelompok siswa yang menggunakan air PDAM dengan indeks DMF-T 2,8. Dari kegiatan kajian aspek sosial budaya masyarakat yang menggosok gigi dengan air sungai, peneliti menemukan bahwa masih banyaknya masyarakat yang menggosok gigi dengan air sungai dikarenakan beberapa hal yaitu: pertama, kurang massifnya pemerintah dalam mensosialisasikan pengaruh air sungai terhadap kesehatan gigi. Kedua, lemahnya dukungan lembaga-lembaga sosial seperti keluarga dan sekolah dalam memberikan informasi tentang pengaruh air sungai terhadap kesehatan gigi. Ketiga, masih tetap bertahannya perilaku masyarakat untuk menggosok gigi dengan air sungai meskipun sudah ada alternatif sumber air yang lain seperti PDAM. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman tentang pengaruh air sungai terhadap kesehatan gigi, anggapan mahal terhadap air PDAM, masih menganggap sepele terhadap sakit gigi sehingga tidak mempermasalahkan kualitas air untuk menggosok gigi. Ketiga, berdasarkan relaitas rendahnya pemahaman masyarakat tentang pengaruh air sungai terhadap kesehatan gigi serta berbagai perilaku mereka yang merugikan untuk kesehatan gigi. Maka untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi mereka terutama dalam mengatasi masalah tingginya tingkat karies gigi maka peneltiian ini menemukan model yang tepat di dalam mengatasi ini yaitu melalui pembentukan Kader Kesehatan Gigi (KKG) dan Pengembangan model teknologi sederhana untuk pengolahan air. Untuk daerah kota Banjarmasin di mana ketersediaan air yang mememnuhi persyaratan kesehatan sudah tercukupi maka model yang dikembangkan adalah pembentukan KKG yang lebih banyak diarahkan pada pembimbingan masyarakt untuk berperilaku sehat dalam perawatan gigi termasuk menggunakan air yang memenuhi persyaratan kesehatan. Beda halnya dengan daerah-daerah yang belum terjangkau oleh air maka pilihan teknologi sederhana untuk pengolahan air menjadipilihan alternative di samping pembentukan Kader Kesehatan Gigi (KKG) terutama oleh kalangan yang berasal dari masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk mengatasi permasalahan mereka di dalam memperoleh kebutuhan air yang memenuhi persyaratan kesehatan.

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: R Medicine > RK Dentistry
Divisions: Fakultas Kedokteran > Pendidikan Dokter Gigi
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 21 Jun 2017 07:14
Last Modified: 21 Jun 2017 07:26
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/1822

Actions (login required)

View Item View Item