INOVASI UNTUK PEMBANGUNAN INKLUSIF BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN LAHAN BASAH MENUJU PENGEMBANGAN INDUSTRI INTI DI DAERAH (TAHUN II)

Hesty , Heryani and Agung, Nugroho and Thresye, Thresye (2015) INOVASI UNTUK PEMBANGUNAN INKLUSIF BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN LAHAN BASAH MENUJU PENGEMBANGAN INDUSTRI INTI DI DAERAH (TAHUN II). Project Report. Universitas Lambung Mangkurat . (Unpublished)

[img]
Preview
Text
25. Inovasi Untuk Pembangunan Inklusif Berbasis Komoditas Unggulan Lahan Basah Me-nuju Pengembangan Industri Inti Di Daerah (Tahun II).pdf

Download (914Kb) | Preview

Abstract

Hasil yang diperoleh pada Tahun I mampu membuktikan hipotesa bahwa pemberian senyawa ‘anti gait’ pada formula yang tepat akan dapat mempertahankan pH nira saat menuju proses pengolahan. Pada bagian lain juga diperoleh hasil bahwa pH yang stabil mampu mempertahankan kualitas total padatan terlarut yang dinyatakan dalam derajat brix. Penelitian padaTahun II diarahkan untuk menghasilkan pangan fungsional berupa gula aren dengan fungsi khusus sebagai hepatoprotector dan menghambat kenaikan gula darah walaupun mengkonsumsi gula. Selain itu standar output mengacu pada SNI dan Standarisasi Pelayanan Makanan dan Minuman ASEAN (SNI Valuasi,2013). Tujuan lain yang sangat diharapkan kualitas nira yang terstandar diperoleh dari rekayasa proses produksi memberikan hasil yang optimal pada beberapa parameter analisis yang telah ditetapkan seperti keberadaan senyawa metilglioksal (MGO), senyawa antioksidan serta kemampuan untuk memperpanjang daya simpan produk. Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah membangun kompetensi inti industri daerah berbasis komoditas hasil pengelolaan manajemen lahan basah dan lahan sub optimal berupa hasil-hasil invensi, selanjutnya dilakukan translasi dengan proses rekayasa dan hilirisasi yang berstandar untuk kemudian menjadi produk komersialisasi. Produk komersial tersebut merupakan bentuk suatu inovasi dalam pembangunan inklusif dalam upaya program pengembangan industry prioritas, dalam hal ini industri gula sesuai yang dicanangkan Kementerian Perindustrian (Kementerian Perindustrian,2012). Penelitian bersifat eksperimen dan untuk fungsi khusus percobaan dilaksanakan di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Kelompok, terdiri dari Placebo, penambahan ekstrak terstandar dengan fungsi khusus pada 5 taraf dengan acuan lolos uji toksisitas dini (uji BSLT), kemudian diformulasikan dengan memperhatikan kualitas gula terbaik mengacu standarisasi pelayanan makanan dan minuman ASEAN (SNI Valuasi, 2013) dan tetap berpegang pada Standar Efikasi Obat Herbal. Formulasi terbaik selanjutnya dilakukan analisa in vivo. Pelaksanaan penggunaan hewan coba menerapkan system ACUC (Animal Care and Use Committee). Analisis yang dilakukan meliputi metode untuk pengukuran kadar metil glioksal, MDA, aktivitas katalase, dan SOD. Untuk hepatoprotector dilakukan dengan mengukur kadar SGOT dan SGPT. Untuk kenampakan fisik produk, khususnya warna dan bau mengacu pada Metode Ho et al., 2007. Penghitungan value added juga menjadi bagian penting hasil dari riset Tahun II, mengingat di Tahun III sudah mengarah pada cluster industri untuk hilirisasi mengacu metode standar dan komersialisasi. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa rekayasa proses produksi mampu memberikan perbaikan pada rata-rata nilai pH, mempertahan zat padat terlarut (obrix), mempercepat proses pemasakan akibat dari tingginya nilai padatan terlarut sehingga lebih cepat mengkristal, memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik dibanding kontrol yang ditunjukkan dengan rata-rata nilai IC50 yang lebih kecil, memiliki kemampuan sebagai antimikroorganisme yang berkorelasi dengan nilai Metilglioksal serta mampu memberikan rasio nilai tambah diatas 15% yaitu sebesar 19,87%. Penelitian pada Tahun 3 dilanjutkan dengan pengembangan IKM Gula Merah Inovatif (sesuai dengan SNI 013743.1995), dimulai dengan membentuk cluster industry prioritas bersama dengan industry lainnya yang sinergis, mengingat gula merah merupakan bahan utama campuran jamu, kuliner khas daerah (kue Banjar) serta produk olahan pangan lainnya berwujud minuman. Semua industri rumah tangga tersebut akan dikembangkan menjadi industri kecil dan menengah (IKM) yang terjalin dalam cluster. Untuk tahap berikutnya IKM dimaksud akan dikembangkan menjadi Industri Inti di Daerah mengingat berbasis bahan baku local serta yang dikembangkan berbasis kearifan lokal masyarakat Kalimantan Selatan

Item Type: Monograph (Project Report)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Depositing User: Mr Arief Mirathan - Eka Setya Wijaya
Date Deposited: 01 Jun 2017 02:37
Last Modified: 01 Jun 2017 03:19
URI: http://eprints.unlam.ac.id/id/eprint/1753

Actions (login required)

View Item View Item